
Ibu-ibu peserta Balap Karung sedang bersiap-siap melakukan start.
“Satu, dua, tiga, go….”teriak Masnur, panitia lomba. Seketika itu pula, Wilda dan lima ibu-ibu lainnya segera berlari menyusuri lintasan. Namun gerak mereka tak leluasa. Pasalnya, tubuh mereka tersarungi karung goni. Dua tiga ibu terjatuh di tengah lomba karena kurang cakap menyeimbangkan tubuh. Tak pelak kejadian ini mengocok perut para penonton. Akhirnya, setelah berpeluh dan sempat terjatuh satu kali, ibu Wilda mencapai garis finish lebih dulu. Ia pun mendapat elukan dari sang suami dan supporter lain yang sedari tadi menyemangati. Hari itu, Wilda berhasil menjuarai lomba balap karung antar ibu-ibu se-Karebbe.
Tak hanya Balap Karung, lomba-lomba lain juga digelar hari itu, Senin, 17 Agustus 2009. Seperti Paku Botol, Lari Kelereng, Bakiak, dan lainnya. Lomba-lomba ini diadakan oleh Kajima-PP J.O (KPP) untuk memeriahkan Milad RI yang ke-64. Agak berbeda dari tahun lalu, peringatan kali ini tak diadakan di kompleks hunian karyawan dan tak hanya dikuti oleh karyawan saja. Acara kali ini dipusatkan di tempat umum, Lapangan Sepak bola Karebbe. Menurut A. Ekky Pallawa, Chief External Relation KPP, ini dilakukan agar perayaan dapat pula diikuti oleh warga sekitar. Maksud ini sepertinya tercapai. Hari itu, ratusan warga Karebbe dan dari desa-desa tetangga bahkan dari ibukota kabupaten Luwu Timur tumpah ruah memadati Lapangan Karebbe.
Perayaan dimulai pukul 12 siang, beberapa saat setelah upacara peringatan detik-detik proklamasi usai. Sebelum lomba digelar, acara dibuka dengan lantunan musik organ tunggal dengan iringan lagu beberapa artis lokal. Karyawan yang datang pun tak mau kalah. Mereka turut menyumbang satu dua buah lagu. Meski beberapa lagu yang dipersembahkan seperti Isabella dan aneka dendang Melayu lainnya terasa kurang pas dengan tema acara, iringan musik ini mampu menjadi penyejuk di tengah panas matahari yang cukup menyengat siang itu.

Para pemain Sepak Bola Buta sedang kebingungan mencari bola
Lomba pun digelar. Khusus untuk Lari Kelereng dan Paku Botol hanya diperuntukkan buat anak-anak. Mappeasse, Carpenter yang menjadi koordinator kedua lomba tampak kewalahan mendata peserta. Segera setelah pendaftaran dibuka, ia langsung diserbu puluhan anak-anak karyawan dan warga. Di tempat terpisah, Gede dan Dedi, Staf Logistic sibuk mendaftarkan peserta yang akan mengikuti Lomba Bakiak, Sepakbola Corong dan Volly Buta. Ketiga lomba dimainkan secara berkelompok. Karyawan yang mendaftar kebanyakan membuat regu berdasarkan departemennya masing-masing. Ada tim Survey, Transport, Logistik dan lainnya. Sedangkan untuk Balap Karung diperlombakan secara perorangan dengan dua kategori, perempuan dan laki-laki.
Lomba-lomba ini dimainkan secara serentak. Penonton pun menyebar menyemuti tiap lomba yang dipertandingkan. Masing-masing lomba punya keunikan tersendiri. Volley Buta misalnya. Berbeda dengan Volley biasa, net pada lomba ini ditutupi dengan terpal. Akibatnya, regu yang bertanding tak saling melihat dan tak bisa mengantisipasi pergerakan musuh. Karenanya tiap regu harus selalu waspada dan memperhatikan bola karena tiba-tiba saja bisa jatuh dan menyeberang ke daerahnya. Lain lagi dengan Sepakbola Corong. Semua muka pemain ditutupi dengan penutup wajah berbentuk corong dengan lubang kecil di ujungnya. Alhasil jarak pandang dan pengamatan jadi terbatas. Semua pemain pun tampak kebingungan mencari bola yang mesti dimasukkan ke gawang. Hal ini mengundang sorak dan tawa penonton.

Peserta Lomba Bakiak tampak kesulitan melewati rintangan tali.
Di pertengahan lomba, panitia tiba-tiba mengumumkan pembagian paket-paket jajanan gratis kepada penonton. Isi tiap paket beraneka macam, ada teh kotak, kue, snack dan permen. Beberapa detik setelah pengumuman, tenda panitia langsung diserbu massa. Mungkin sudah jamak dan telah menjadi laku umum masyarakat Indonesia- selalu ingin terdepan jika ada yang gratisan- pembagian jajanan akhirnya jadi kacau. Panitia kewalahan karena pengunjung tak mau antri dan saling berebutan. Untunglah, keadaan kemudian bisa ditenangkan. Solusinya, panitia membuat jalur khusus dan tangan pengunjung yang telah mendapat paket dicap dengan stempel khusus. Penonton pun bisa antri, dan pembagian dobble bisa dikurangi. Suasana akhirnya kembali tenang dan semua penonton tampak senang karena semuanya bisa kebagian.
Menjelang magrib pertandingan pun berakhir. Setelah menang beberapa putaran dan berhasil menyisihkan regu-regu lainnya, Survey Team keluar sebagai juara Volley Buta, Fuel Team sebagai pemenang Sepak Bola Buta dan Transport Crew juara Bakiak. Penyerahan hadiah dilakukan di panggung utama oleh H Trisna, Superintendent Construction, M. Imran, Manager Administration dan Staf Manajemen KPP lainnya.
Perusahaan juga membagikan Doorprize kepada pengunjung dan warga. Pemberian ini sebagai ungkapan terima kasih perusahaan kepada warga sekitar. Pemberian doorprize dilakukan dengan pengundian nomor mirip arisan. Pengunjung tinggal mencocokan nomor yang keluar dengan kupon doorprize yang mereka dapatkan di paket-paket jajanan yang telah dibagikan. Doorprize-dorprize yang diberikan cukup menarik, seperti TV, Tape, HP, Rice Cooker dan berbagai perlengkapan rumah tangga lainnya.

H. Trisna, Superintendent Construction Kajima-PP J.O sedang menyerahkan Doorprize yang dimenangkan oleh salah seorang warga,
Ba’dah magrib semua rangkaian acara berakhir. Tugas selanjutnya adalah membersihkan lapangan dari sampah-sampah yang menumpuk dan mengembalikan barang-barang warga yang dipinjam saat acara. Hendro Rudiyanto, ketua panitia, tampak kebingungan karena sebagian besar panitia telah melarikan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Untunglah dibantu dengan beberapa panitia yang masih tersisa, Site Engineering ini melaksanakan tugas akhir tersebut dengan dedikasi tinggi dan penuh tanggungjawab. Tetap Semangat pak, Merdeka…
Komentar